yuswae

Saturday, August 19, 2006

kemerdekaan kian jauh

Kamis, 17 Agustus 2006 lalu, seorang kawan mengirimkan sms. bunyinya 'seharian aku menyesali hari ini, 17 Agustus: hari yang menipu, membuat banyak orang orang di Indonesia lupa kalau kemerdekaan justru kian jauh....'

Aku terhenyak. kemerdekaan kian jauh? ya. kian jauh! tapi kita (saya) seakan tidak sadar sudah seberapa jauh 'merdeka' itu lari dari dekat kita. dari denyut nadi kebangsaan kita. Kini makhluk yang bernama 'kemerdekaan' itu identik dengan 'krupuk'.

Sunday, August 13, 2006

mboh bingung

Blog Tutorial

Tuesday, August 08, 2006

Presiden Republik Blog Indonesia

Sunday, August 06, 2006

Habibie: Era Tinggal Landas Timtim


Habibie. Aku ingat betul. Nama itu banyak disebut kala aku masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah (setingkat sekolah dasar). Waktu itu, ia adalah sosok ideal yang selalu disodorkan oleh guru-guruku.
"Kau harus seperti Habibie," katanya. "Dia hebat. Cerdas. Dia ikut mengharumkan nama bangsa ini dan menunjukkan bahwa otak bangsa ini bukan otak udang. Bahkan, otak bangsa ini bisa lebih hebat dari bangsa lain!."

Habibie punya kecerdasan berlebih. Kalau ada 10 saja orang seperti dia, negara ini bakal maju. Begitu kata mereka. Betulkah? Bisa jadi. Itu jawabku kala itu. Tetapi jawaban itu sudah berubah ketika dia mencoba mengadu keberuntungan menjadi Presiden RI ketiga menggantikan si mbah. "Kalau ada 10 orang seperti dia di negeri ini, bisa-bisa 10 provinsi lepas dan menjadi negara baru!"

Friday, August 04, 2006

Megawati: Tersenyum dan Menangislah


Tersenyum dan menangislah. Ini bukan judul lagu pop yang banyak mengumbar dan menonjolkan arti cinta ala remaja kita. Bukan pula bagian sajak Kahlil Gibran. Tetapi dua hal itu, setidaknya menurut saya, yang selala ditonjolkan oleh Anak kedua dari Proklamator dan Presiden Pertama RI itu selama dia memimpin republik ini.

Sejak menggantikan Gus Dur, menangis dan tersenyum adalah dua sisi yang dominan dalam gaya kepemimpinan Megawati. Dia menangis ketika ada bencana di negeri ini. Ketua Umum PDIP ini biasanya tersedu sedan di depan kamera, di depan publik. Kesannya pengen menonjolkan rasa haru dan empati kepada rakyatnya yang terkena bencana..begitu. Sampai lupa bagaimana menyelesaikan rehabilitasi pascabencana.

Mega tersenyum. Ya, dia tersenyum selalu. Kadang tanpa sebab yang jelas. Aneh? Mungkin. Karena cita rasa humor anak buahnya di kabinet? ah mosok.. Akibat polah anak-anaknya di Partai? bisa jadi. Soalnya, wakil-wakil kita dari PDIP di parlemen memang punya selera humor cukup tinggi...

Mega, tersenyumlah! Jangan perlihatkan tampang merengut. Tidak perlu mengumbar omongan. Diam dan tersenyumlah! Kira-kira begitulah bisikan dari penasehat presiden kita yang satu ini ketika mendapat kritikan tajam dari rival politiknya.

Mega, tersenyumlah! Tapi tidak usah pikirin mau nyalon lagi pada pemilu mendatang. Cukup sampai disini. Tangis dan senyummu sudah tercatat dalam sejarah republik ini.

Saturday, July 29, 2006

Cita-cita Masa Kecilku


Surabaya, 29 Juli 2006. 20:20 WIB
Dulu. Dulu sekali. Waktu aku masih kecil. Ingusan. Setiap kali ditanya bapak, ibu, kakek, nenek, famili, apa cita-citaku kalau sudah gede. Aku biasanya menjawab: Ingin jadi insinyur. Ingin jadi tentara. Dua jawaban itu selalu dominan dalam setiap jawaban instingtif masa kecilku. Entah mengapa? Tidak cukup jelas juga.

Aku ingin menjadi insinyur? Aneh. Padahal sebutan itu adalah gelar bagi mereka yang berhasil menamatkan jenjang strata 1 perguruan tinggi. Kenapa bukan Drs. ya? tidak cukup jelas juga.
Aku ingin menjadi tentara? Ini menarik. Meski tidak cukup jelas juga apa alasanku dulu memilih cita-cita itu. Hasrat itu mungkin muncul karena otakku, kala itu, dijejali imaji bahwa tentara itu sosok yang tegap, gagah, tegas, dan dihormati (lebih tepatnya ditakuti) orang lain. Maklum saja jika imaji itu masuk ke alam bawah sadarku. Sebab aku lahir ketika Orde Baru menjadi rejim yang sangat dominan dan militeristik.

Aku lahir pada awal Mei 1980. Tidak ada yang istimewa dari proses awal kemunculanku di dunia ini. Tidak ada yang spesial dari pengalaman pertamaku menghirup oksigen bumi . Aku mencoba mencari makna dari tanggal kelahiranku. Tetapi tidak ada yang memuaskan. Twing! eureka!Ternyata, tanggal lahirkan sama dengan Karl Marx. Ya. Aku lahir pada 5 Mei. Aku baru sadar itu ketika aku sudah di bangku kuliah. Ketika aku dan kawan-kawan mencari simbol-simbol perlawanan atas rejim Orde Baru.

Waktu itu, aku senang sekali karena tanggal lahirku sama dengannya. Senang rasanya. Walau itu hanya kebetulan belaka. Dari situ aku mencoba mengenal Karl Marx. Baca bukunya dan tulisan orang lain tentang dia. Meski sampai sekarang aku tidak tuntas mengenalnya. Saat inipun, pemahamanku tentang dia dan pemikirannya juga masih sangat dangkal.


Ah..bangganya. Saking bangganya, untuk merayakan ultahku yang ke-22, aku menggelar diskusi kecil-kecilan untuk mengenang dan membedah pemikiran Karl Marx. Lucu. Padahal, sebelumnya aku tidak pernah merayakan ultah. dengan pacarku sekalipun.

Ah..bangganya. Walau kebanggaan itu semu..

(Lho..lalu apa hubungannya hasratku menjadi tentara dengan Karl Marx?)

Aku Ingin Jadi Presiden







Surabaya, 29 Juli 2006. 19.30 WIB
Aku ingin menjadi presiden republik ini!
Tidak begitu jelas kenapa tiba-tiba aku mempunyai keinginan menjadi orang nomor satu di negeri ini. Karena dorongan untuk mengentas negeri ini dari keterpurukan? Akibat kecewa atas tingkah polah elit politik dan birokrasi kita? Hasrat mulia untuk mengabdi pada ibu pertiwi seperti slogan pahlawan dan--kini--militer kita? Iya. Mungkin. Bisa jadi. Tidak. Terlalu naif rasanya kalau itu aku menjadikan semua itu sebagai alasan ketertarikanku pada profesi (aku sebut posisi mulia itu sebagai profesi!!!???) ini. Juga terkesan sombong. Hipokrit.

Aku ingin menjadi presiden republik ini!
Serius! Aku serius! Bukan Republik BBM!
Entah kapan. Mungkin 15, 20, 25, atau 35 tahun lagi...

(bersambung)