yuswae

Saturday, July 29, 2006

Cita-cita Masa Kecilku


Surabaya, 29 Juli 2006. 20:20 WIB
Dulu. Dulu sekali. Waktu aku masih kecil. Ingusan. Setiap kali ditanya bapak, ibu, kakek, nenek, famili, apa cita-citaku kalau sudah gede. Aku biasanya menjawab: Ingin jadi insinyur. Ingin jadi tentara. Dua jawaban itu selalu dominan dalam setiap jawaban instingtif masa kecilku. Entah mengapa? Tidak cukup jelas juga.

Aku ingin menjadi insinyur? Aneh. Padahal sebutan itu adalah gelar bagi mereka yang berhasil menamatkan jenjang strata 1 perguruan tinggi. Kenapa bukan Drs. ya? tidak cukup jelas juga.
Aku ingin menjadi tentara? Ini menarik. Meski tidak cukup jelas juga apa alasanku dulu memilih cita-cita itu. Hasrat itu mungkin muncul karena otakku, kala itu, dijejali imaji bahwa tentara itu sosok yang tegap, gagah, tegas, dan dihormati (lebih tepatnya ditakuti) orang lain. Maklum saja jika imaji itu masuk ke alam bawah sadarku. Sebab aku lahir ketika Orde Baru menjadi rejim yang sangat dominan dan militeristik.

Aku lahir pada awal Mei 1980. Tidak ada yang istimewa dari proses awal kemunculanku di dunia ini. Tidak ada yang spesial dari pengalaman pertamaku menghirup oksigen bumi . Aku mencoba mencari makna dari tanggal kelahiranku. Tetapi tidak ada yang memuaskan. Twing! eureka!Ternyata, tanggal lahirkan sama dengan Karl Marx. Ya. Aku lahir pada 5 Mei. Aku baru sadar itu ketika aku sudah di bangku kuliah. Ketika aku dan kawan-kawan mencari simbol-simbol perlawanan atas rejim Orde Baru.

Waktu itu, aku senang sekali karena tanggal lahirku sama dengannya. Senang rasanya. Walau itu hanya kebetulan belaka. Dari situ aku mencoba mengenal Karl Marx. Baca bukunya dan tulisan orang lain tentang dia. Meski sampai sekarang aku tidak tuntas mengenalnya. Saat inipun, pemahamanku tentang dia dan pemikirannya juga masih sangat dangkal.


Ah..bangganya. Saking bangganya, untuk merayakan ultahku yang ke-22, aku menggelar diskusi kecil-kecilan untuk mengenang dan membedah pemikiran Karl Marx. Lucu. Padahal, sebelumnya aku tidak pernah merayakan ultah. dengan pacarku sekalipun.

Ah..bangganya. Walau kebanggaan itu semu..

(Lho..lalu apa hubungannya hasratku menjadi tentara dengan Karl Marx?)

Aku Ingin Jadi Presiden







Surabaya, 29 Juli 2006. 19.30 WIB
Aku ingin menjadi presiden republik ini!
Tidak begitu jelas kenapa tiba-tiba aku mempunyai keinginan menjadi orang nomor satu di negeri ini. Karena dorongan untuk mengentas negeri ini dari keterpurukan? Akibat kecewa atas tingkah polah elit politik dan birokrasi kita? Hasrat mulia untuk mengabdi pada ibu pertiwi seperti slogan pahlawan dan--kini--militer kita? Iya. Mungkin. Bisa jadi. Tidak. Terlalu naif rasanya kalau itu aku menjadikan semua itu sebagai alasan ketertarikanku pada profesi (aku sebut posisi mulia itu sebagai profesi!!!???) ini. Juga terkesan sombong. Hipokrit.

Aku ingin menjadi presiden republik ini!
Serius! Aku serius! Bukan Republik BBM!
Entah kapan. Mungkin 15, 20, 25, atau 35 tahun lagi...

(bersambung)